Kamis, 21 Mei 2015

Those Stairs


Dua minggu lalu.
“Lisa…”
Aku bergeming di tempatku.
“Lisa.. kumohon..”
Aku masih tetap diam di tempat sambil tetap melakukan pekerjaanku. Pemilik suara parau yang memohon pertolonganku itu menatap mataku dengan kedua bola matanya yang tengah berlumuran darah. Tubuhnya yang kejang-kejang serta dipenuhi tusukan darah itu diangkut oleh balutan karung coklat. Sementara aku sendiri berusaha menguatkan hatiku atas perbuatan yang aku dan kawan-kawanku lakukan ini.
Aku tahu ini salah, tapi, tak ada yang bisa kulakukan sekarang ini. Legenda itulah penyebabnya! Dan kami tak punya pilihan lain!
Kudongakkan kepalaku, dan langsung menghadapi Dani, Megan serta Ren yang masih sibuk menggendong tubuh gadis ini, gadis yang pernah menjadi kawan kami.
Kami terus menggotong gadis itu, sebelum akhirnya sampai di lantai ujung asrama, lantai yang menjadi satu-satunya penghubung antara lantai tiga dan lantai empat asrama yang terkenal angker di seluruh jagat raya sekolahan.
Apakah ini hal yang tepat? Batinku.
Namun, sebelum sempat mendapat jawaban dari seluruh keraguanku itu. Dani sudah lebih dahulu memberi isyarat agar kami segera melemparkan karung berisi gadis malang ini dari atas tangga.
Dan saat itulah, berkat legenda anak tangga sialan itu, aku tahu hidupku takkan pernah sama lagi.
***
Aku tahu ada yang tak beres belakangan ini.
Sudah berhari-hari ini aku di hantui berbagai jenis mimpi buruk yang menerpa tidur lelapku. Baik malam di saat aku sudah lelah berkutat dengan seluruh tugas yang ada di sekolahan, atau bahkan di siang hari saat ketiduran di ruang kelas. Ditambah lagi, surat teror ini.
 “TANGGA LANTAI EMPAT. DUA MINGGU LALU. 12 MEI 2014.”
Sialan! Jelas-jelas ini menunjuk pada peristiwa yang kulakukan hari itu!
Sial-sial! Berkat surat-surat teror yang mengarah padaku setiap harinya, aku nyaris membuat diriku sendiri anemia akibat tak mau tidur.
Dan, yang menakutkannya, semua mimpi dan surat-surat itu mengarah pada satu tempat yang selalu berhasil membuatku mati kutu seketika. Satu tempat yang membuatku selalu ketakutan dan membuatku merasa harus membayar sesuatu yang telah kulakukan sebelumnya. Hal yang pernah kulakukan setahun lalu bersama sahabat-sahabatku.
“Sudahlah, Lis,” di tengah penuh ketakutanku, rupanya Dani berusaha memberiku semangat. “Itu sudah berlalu, dan semuanya aman-aman saja.”
Aku menatap Dani yang tengah menyeruput es tehnya di kantin dengan tatapan horor. “Tapi mimpi dan surat itu mendatangi gue setiap hari, Dan.” Keluhku, kemudian melanjutan. “Gue bisa gila kalau gini terus.”
“Itu hanya isengan belaka.” Dani mencoba menengahi. “Dan mimpi lo hanyalah kebetulan semata.”
“Isengan? Kebetulan? Jelas-jelas ini semua menunjuk pada peristiwa itu, Dan!”
Ren diam dan menatapku yang paranoid bukan main menyikapi hal ini. “Kelihatannya lo termakan legenda itu, Lis.”
Ya, jangan salahkan aku. Legenda itu-lah yang menyebabkan semuanya, legenda itulah yang mengatakan bahwa tangga di lantai empat asrama itu bisa merenggut nyawa seseorang di tengah hari, entah dari jiwa, mental atau psikis. Pokoknya, kecelakaan disana selalu disebabkan oleh legenda itu. Dan, legenda itu pula-lah yang membuat kita jadi seperti sekarang ini! Kita tak sengaja membunuhnya! Itu semua hanya karena kita ingin mengetes legenda itu!
Dan sialnya, aku mulai menganggap bahwa surat serta mimpi itu adalah bagian dari legenda itu. Legenda yang padahal ku-karang sendiri! Aku mulai menghadapi fakta bahwa aku tengah mempercayai kebenaran legenda itu.
“Tapi tetap saja, kita gak bisa tinggal diem meski ini hanya isengan belaka, Dan.” Megan mulai berbicara. “Kita harus cari tau siapa yang berani main-main dengan kita.”
“Itu juga niat gue.”
Kami berempat diam sejenak, sebelum akhirnya, Dani mengambil keputusan.
“Kita ke tangga itu malam ini.”
***
Aku tak tahu apakah ini hal yang benar untuk menyelidiki siapa yang berada di balik semua hal ini. Aku tahu perbuatan kami salah. Tapi, tak bisakah kami hidup dengan tenang seperti layaknya orang normal? Kejadian itu bukan kesalahan kami, kami hanya dipaksa dan tertekan akan segala hal ini. Kami—atau lebih tepatnya aku—ingin kembali hidup normal. Tanpa adanya legenda busuk macam itu, ataupun hal yang kami lakukan, semuanya sudah salah, semuanya sudah salah dari awal.
Sialan, kenapa aku bisa terlibat hal-hal seperti ini?
“Kita sudah sampai.”
Aku nyaris berteriak mendengar kalimat itu diutarakan dengan keras oleh Dani yang membawa senter. Gelapnya malam itu serta suara anak tangga yang berderik membuatku langsung kalang kabut dan berniat kabur seketika.
Tapi, tak bisa, kami-lah yang memulai semua ini, dan aku tahu, kami-lah pula yang harus menyelesaikannya.
Dani mengarahkan senternya ke bawah anak tangga, menuju ke arah persis area tempat gadis itu terjatuh dan diam tak bergerak lagi. Gadis itu sudah pasti tak mungkin selamat, mengingat tusukan-tusukan serta matanya yang telah dibutakan, tusukannya memang tak terlalu dalam tapi..
Astaga, bagaimana kalau gadis itu memang masih hidup?
Belum sempat mengucapkan kalimat itu ke kawan-kawanku yang lainnya, tahu-tahu saja teriakan Dani dan Ren langsung memecahkan suasana hening seketika. Tanpa perlu diaba-aba lagi, Dani dan Ren langsung saja terjatuh dari atas lantai tangga yang curam bukan main. Di dorong serta di tusuk oleh seseorang.
Darah merah langsung menguncur deras dari kepala mereka.
Setelahnya, giliran Megan yang berteriak, aku menoleh, lalu mendapati kedua mata gadis itu ditusuk, oleh seseorang dari belakangnya yang tak berhenti-henti memegangi tubuhnya, sebelum akhirnya melemparkan tubuh gadis malang itu ke tangga itu. Berguling-guling tak karuan sambil kesakitan sebelum akhirnya kepalanya bergabung dengan Dani serta Ren.
Kini, hanya tersisa aku seorang diri.
Aku memberanikan diri membalikkan badan. Dan tahu-tahu saja, aku yakin aku tengah berhadapan dengan sesosok wanita yang matanya telah dibutakan serta beberapa tusukan di perutnya yang telah membusuk, darah di baju gadis itu telah mengering, namun tetap saja mengeluarkan bau amis yang tak enak bukan main.
Meski demikian, aku jelas mengetahui sosok itu.
Itu sosok sahabatku sendiri, sahabat yang aku dan kawan-kawanku bunuh dua minggu lalu. Dan rupanya, meski dengan luka-luka yang kami buat, ia rupanya masih hidup di depan mataku untuk membalas dendam.
“Kamu jahat, Lisa…” suaranya tetap sama seperti sebelumnya, parau dan serak-serak. “Kamu membiarkan aku, dan membunuh aku? Kamu jahat…”
“Aku bisa jelasin semuanya,” aku berusaha menenangkan sosok itu.
“Gak! Gak ada yang perlu dijelasin!” ia berteriak kencang. “Legenda itu biang keladinya, tapi kalian yang memulainya-- kamu  yang memulainya! Aku gak akan seperti ini kalau kamu gak bersikeras ingin menyelidiki legenda ini!”
Nafasku langsung terengah-engah.
Benar, aku-lah penyebab semua kejadian ini.
Aku-lah yang ingin mengetes kebenaran legenda tangga ini.
Sebelum aku sempat berteriak ataupun merasa ketakutan, tahu-tahu saja ia langsung mendorongku kencang dari atas tangga, membuatku dan tubuh sosok itu langsung jatuh dari tangga lantai empat yang penuh dengan legenda. Dan akhirnya, aku menyadari bahwa darah mulai menguncur deras dari kepalaku.
Namun sosok itu tetap tak gentar, ia mendudukiku, kemudian, dengan sebilah pisau yang ia bawa, ia bersiap-siap menusuk kedua bola mataku. Sama seperti hal yang pernah kulakukan padanya dua minggu lalu.
Dan yang kulihat terakhir kali adalah anak tangga itu, anak tangga brengsek yang berisi legenda yang membuat hidupku takkan sama lagi. Sekarang, di masa lalu atau selamanya.