Kamis, 09 Mei 2013

Dj dan Jd


Jangan pernah berurusan dengan Dj dan Jd, atau kau takkan pernah menjalani hidupmu dengan tenang lagi.
Dj dan Jd adalah dua nama yang paling melegenda di sekolah selama 2 tahun terakhir. Mereka adalah pasangan saudara kembar sempurna yang pernah ada, sama-sama pandai, tampan dan kuat. Tidak seperti kebanyakan orang yang jika pandai menjadi kutu buku ataupun lebih suka mengurung diri di dalam kelas pada saat jam istirahat, mereka malah sering mencari mangsa di waktu jam-jam itu, seperti mencari korban untuk dibullying atau disiksa.
Namun, tidak seperti saudara kembar kebanyakan yang selalu bersama, mereka malah bermusuhan dan saling bersaing dalam hal apapun. Hal itu sebenarnya cukup membuat seisi sekolah lega, bayangkan saja jika dua orang kuat yang suka menyiksa orang lain saling bersekutu, bisa-bisa makin banyak orang di sekolahan yang menerima siksaan dari mereka berdua.
---
Suara teriakan keras yang terdengar di lapangan sekolahan membuatku menengok ke arah lapangan sekolahan yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri dan melihat pemandangan yang sudah biasa terjadi sehari-hari.
Dj sedang menendangi seorang anak laki-laki kelas 10 yang masih culun dengan kasar. Laki-laki itu hanya bisa tersungkur di lantai sambil sesekali berteriak kesakitan.
Itu sih sudah bukan hal yang istimewa lagi bagi anak-anak yang melihat. Dj selalu mencari mangsa di jam-jam segini, makanya, lebih baik jangan dekat-dekat dengannya, kalau kau yang kena, berarti hari ini keberuntungan tidak berpihak padamu.
Tapi, yang berbeda kali ini, Dj tidak hanya menendanginya, tapi menimpuknya dengan sebuah batu yang entah ia dapat dari mana, sampai kepala anak lelaki itu berdarah.
Cih, benar-benar rendah.
Banyak orang yang melihat kejadian itu, namun, tak satupun yang berani melawan atau minimal menghentikan kejadian itu, sementara si anak culun itu terus menatap orang-orang yang lewat dengan tatapan minta tolong.
Tentu saja mereka tak berani menolongnya. Yang bisa menghentikan Dj hanyalah kembarannya, Jd.
“Dasar rendah! Ngapain lo pake batu buat nyiksa anak culun itu?!” teriak Jd ke arah Dj yang tengah berada di sampingnya.
Dj menatap wajah Jd dengan muka tak senang. “Suka-suka gue, lo gak ada hak buat ngatur-ngatur gue. Apa lo mau jadi pahlawan?”
Uh-oh, nadanya tampak sangat tak menyenangkan di dengar telinga.
“Cari lawan itu yang seimbang dong! Dasar pengecut!” bentak Jd pada Dj dengan nada kasar.
Raut wajah Dj langsung berubah, ia langsung mengepalkan tangannya dan meninju hidung Jd sampai terdengar bunyi ‘krak’ pertanda bahwa hidung Jd itu sudah dipatahkan oleh Dj.
“Kalo gitu, ayo tanding!” balas Dj sambil mencengkram kerah baju Jd dan bersiap memberikan pukulan lagi pada Jd yang menahan rasa sakit di hidungnya yang berdarah.
Jd yang tengah tersungkur di tanah langsung menendang perut Dj dan segera berdiri tegak tanpa mempedulikan darah di hidungnya yang terus mengalir. Pertarungan seru antar saudara kembar ini membuat semua orang yang kebetulan berada di sana memperhatikan tontonan gratis itu. Kalau Dj dan Jd sudah berkelahi, tak mungkin ada yang bisa menghentikan mereka berdua.
Kali ini kedudukan keduanya seimbang. Mereka saling meninju satu sama lain dan melawan. Mungkin, saking frustasinya mereka berdua terhadap kekuatan yang setara, mereka mengambil batu besar seukuran genggaman tangan dan saling melemparkan batu itu ke arah lawan masing-masing.
Dan hebatnya, batu itu dengan tepat mengenai kepala dua saudara kembar itu masing-masing dengan keras yang langsung tersungkur di lapangan sekolahan dan mengeluarkan darah yang terus mengalir.
Tampaknya nama Dj dan Jd tak bakalan mengganggu kehidupan murid-murid sekolah lagi setelah ini.

Cerpen ini diikutkan lomba kuis #nulisyuk Primadonna Angela via twitter.

Rabu, 08 Mei 2013

Belanglicious



Aku ngefans banget dengan girlband Belanglicious. Girlband yang sedari dulu selalu dalam masa jaya-jayanya dan memenuhi iklan-iklan di televisi rumahku. Selain karena para anggotanya cantik-cantik, girlband itu juga tidak menjadi girlband instan seperti girlband-girlband lainnya.
Belanglicious jadi girlband favorit bukan tanpa alasan, suara dan tarian mereka oke banget. Apalagi, seluruh anggota Belanglicious punya ciri khas yang membuat orang lain langsung mengenalinya, yaitu, kulit mereka semua yang sama-sama belang.
Namun, belakangan ini, Belanglicious dilanda gosip yang tidak mengenakkan telinga. Kabar keluarnya salah satu anggota Belanglicious, Lita, karena sudah tidak sependapat dengan anggota lainnya menimbulkan gosip baru bahwa Belanglicious bakalan bubar tahun ini.
Tentu saja, Belanglicious langsung angkat bicara dan mengadakan jumpa pers. Bela, si leader Belanglicious langsung membantah gosip itu serta membeberkan rencana mereka untuk mencari anggota baru dengan mengadakan audisi di beberapa kota.
Jadi, itulah sebabnya kenapa aku sekarang berada di ruang tunggu audisi. Aku pengen bergabung dengan Belanglicious, jadi seperti mereka. Lagipula, sejak ngefans dengan Belanglicious, aku makin mengasah kemampuanku dalam menari dan menyanyi, itu saja sudah menambah kemungkinan jadi anggota baru Belanglicious.
“Eva Valera.” seorang panitia memanggil namaku dari depan pintu ruang audisi dengan membawa beberapa kertas di tangannya.
Aku segera berdiri, merapikan rambut dan dress selututku yang penuh dengan renda. Demi jadi anggota baru Belanglicious saja, aku sampai harus beli baju baru segala, semuanya demi jadi anggota baru Belanglicious.
Saat memasuki ruangan itu, mulutku nyaris mengeluarkan air liur, ruangan itu mewah banget! Ada panggung dan tribun berukuran mini yang disediakan disana, juga ada Bela bersama Lisa, yang dengar-dengar adalah wakil girlband Belanglicious menduduki tempat utama sambil memegang beberapa kertas yang bertumpuk-tumpuk.
Aku menelan ludah. Ditonton girlband idolaku bikin aku jadi nerveous banget. Apa aku bisa menyanyi dan menari dengan baik? Salah-salah suaraku malah tidak keluar dan tarianku malah jadi serampangan.
“Ok, Eva Valera.” Oh, my God, Bela memanggil namaku. “Kamu mau nyanyi lagu Belanglicious yang mana?”
Aku langsung menjawabnya. “Growing Up.”
Bela mengangguk, lalu menyuruh seorang panitia menyalakan lagu itu.
Dan, aku pun mulai menyanyi dan memulai tarianku.
---
“Gimana, Lis?” tanya Bela meminta pendapat pada Lisa setelah aksiku selesai.
Lisa menjawab sambil menuliskan beberapa kalimat pada kertas yang berada di pangkuannya. “Tarian dan suaranya oke.”
Bela mengangguk. “Tapi, dia kurang berciri khas.”
Ucapan Bela langsung membuatku menunduk kecewa. Apa aku bakalan gagal audisi?
“Eva, sorry, kita gak bisa terima kamu di Belanglicious.”
Satu kalimat itu langsung menyambar hatiku. A-aku, gagal. “Kenapa?”
“Sebenarnya, kamu calon yang pas banget. Kamu cantik, suaramu oke, tarianmu bagus, tapi..”
Aku langsung bertanya dengan nada yang agak nyolot. “Tapi, kenapa?”
Bela menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap Lisa sejenak sebelum mengeluarkan jawaban yang membuatku melongo.
“Kulitmu kurang belang, Va.”

Cerpen ini diikutkan lomba kuis #nulisyuk Primadonna Angela via twitter.

Selasa, 07 Mei 2013

Satsuki Sensei as Sena.


Satsuki sensei bukan guru sembarangan. Lebih tepatnya bukan guru. Dia hanyalah seorang penyelidik yang menyamar menjadi guru untuk menyelesaikan misinya dalam mencari pembunuh presiden perusahaan terbesar di Indonesia yang dibunuh sekitar sebulan lalu. Satsuki pun bukan nama aslinya, itu hanya nama yang ia gunakan selama mengajar di sekolah ini.
Pertanyaannya adalah kenapa aku bisa mengetahuinya.
Dari dulu, aku senang memperhatikan gerak-gerik seseorang, mencari informasi tentangnya. Tentu saja cukup mudah bagiku melihat gerak-gerik Satsuki sensei yang matanya selalu waspada terhadap orang-orang disekelilingnya.
Ia harus berakting lebih baik lagi kalau tidak ingin identitasnya diketahui.
Semuanya memperkuat prediksiku saat aku berhasil mendapatkan informasi dari website khusus dengan perlindungan kuat yang berisi informasi pribadi tentang para penyelidik yang bekerja untuk Indonesia, beberapa malah berasal dari luar negeri.
Namun, seorang gadis penyelidik membuatku sedikit terkejut, rupanya Satsuki sensei, dengan nama asli Sena, memang orang yang ditugaskan untuk menyelesaikan misi ini demi memperkuat kepercayaan agen-agen pejabat. Salah satu orang yang dicurigai telah membunuh presiden perusahaan ini adalah salah seorang guru di SMA Permai.
Aku tahu dengan jelas siapa yang ia curigai.
Mr. Edward.
Tapi, tentu saja, aku yakin seratus persen bukan Mr. Edward yang membunuhnya.
Karena Mr. Edward hanyalah sebuah pion yang dimainkan.
---
“Satsuki sensei, selamat pagi!” sapa Jessa sambil menyalami tangan Satsuki sensei yang tidak halus layaknya seorang gadis usia 25 tahun lainnya.
Satsuki sensei hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.
“Satsuki sensei, begini, ada pelajaran bahasa Jepang yang saya kurang paham. Bisakah sensei membantu saya sepulang sekolah?” Jessa menunduk dengan raut wajah memelas.
Satsuki sensei mengerutkan keningnya, membuatnya tampak lebih tua daripada kelihatannya. “Maaf, saya ada tugas lain hari ini, Jessa.”
Jessa tampak kecewa, namun, ia berusaha semaksimal mungkin tidak memperlihatkannya dengan memberikan senyum lebar untuk guru itu. “Tidak apa-apa, sensei. Arigatou.”
Satsuki sensei pun pergi ke arah yang berlawanan dari Jessa, meninggalkan gadis itu yang terus menatap punggung guru perempuan itu.
---
Satsuki sensei memasuki reruntuhan itu dengan jas serta celana panjang hitam mengkilap. Sebuah pistol Revolver terpasang di pinggangnya. Rupanya ia berjaga-jaga jika ada kemungkinan buruk yang terjadi.
Aku melihatnya dengan jelas dari tempat persembunyianku. Guru itu rupanya bertindak nekat dengan mendatangi markas Mr. Edward sendirian. Aku pun tersenyum menyeringai saat melihatnya terbelalak ketika mengetahui Mr. Edward menodongkan pistol ke arahnya.
“Rupanya benar kalau kau pembunuh bayarannya.” ujar Satsuki sensei pelan pada Mr. Edward yang sudah siap menarik pelatuknya.
Mr. Edward menyeringai. “Aku memang pembunuh bayaran.”
“Kau juga yang membunuh presiden salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.” todong Satsuki sensei.
Tanpa berkata apa-apa, Mr. Edward langsung berlari ke arah Satsuki sensei dan menembakkan beberapa peluru ke arah gadis itu. Salah satunya berhasil ia hindari sementara dua diantaranya melukai mata kaki kiri dan bahu kanannya.
Hm, penyelidik kelas tiga, batinku sambil terus memperhatikan pertarungan mereka.
Satsuki sensei langsung mengambil pistolnya dan menembak beberapa kali ke arah Mr. Edward yang dengan lihai menghindari peluru-peluru itu.
“Satsuki sensei, kuberitahu kau satu hal. Bukan aku yang membunuh presiden perusahaan itu. Aku memang turut ambil bagian, tapi, bukan aku yang mengakhiri nyawanya.” Mr. Edward mengakui hal itu dengan tenang.
Satsuki sensei terkejut. “Kau bohong. Banyak petunjuk yang meskipun kecil menyatakan bahwa kaulah yang membunuh presiden perusahaan itu. Lagipula, jika bukan kau yang membunuhnya, siapa lagi yang bisa?”
“Aku.”
Satsuki sensei menengok ke belakang dan menatapku dengan mata terbelalak. Dengan suara yang parau ia berkata pelan. “Tak kusangka, gadis alim yang selama ini berada dekat denganku adalah pembunuh presiden perusahaan terbesar di Indonesia. Aku benar-benar tidak menyadarinya, Jessa.”
Aku tersenyum menyeringai, memutar-mutarkan pistolku dengan lihai. “Aku sudah tahu kau dari tim penyelidik, Satsuki sensei, ah--maksudku, Sena.”
Satsuki sensei menatapku dengan tatapan horor. “Kenapa kau?”
“Edward yang membesarkanku. Sedari kecil aku sudah hidup dengan banyak senjata api, tentu saja, itu menyebabkan aku tertarik dengan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran.” jawabku, dan dengan gerakan kilat langsung berlari ke arah Satsuki sensei sembari menodongkan pistol ke kepalanya. “Oya, sebaiknya sensei gak meremehkan saya, ya.”
Satsuki sensei terdiam. Dengan gesit ia menembak beberapa kali ke arah perutku. Untungnya, karena sudah terbiasa dengan suara pelatuk yang hendak ditembakkan, aku berhasil menghindarinya.
Aku memincingkan mata, menekan pelatuk pada pistolku. Suara tembakan dari pistol yang teredam memenuhi ruangan itu.
“Edward, ayo pergi.” ujarku sambil pergi meninggalkan Satsuki sensei yang tengah tersungkur dengan wajahnya yang tenggelam dalam lautan darah merah miliknya sendiri.

Cerpen ini diikutkan lomba kuis #nulisyuk Primadonna Angela via twitter.

Minggu, 05 Mei 2013

The Queen Of Thugs


Gelar ratu preman terhebat se-SMA Aksi sudah kusabet hari ini.
Dengan mengalahkan Zein, si raja preman sekolahan yang sudah dua tahun jadi musuh bebuyutanku itu, gelar ratu preman sudah pasti jadi milikku. Pasti.
“Sialan lo, Athena!” bentaknya padaku sambil menghapus darah di pinggir bibirnya.
Aku menaikkan dagu. Berusaha agar terlihat congkak. Dengan senyum kemenangan yang kubuat semenyebalkan mungkin, aku berkata padanya. “Masa-masa kejayaan lo udah berakhir, Zein.”
Tanpa bisa berbuat apa-apa, Zein hanya bisa meninju lantai di bawahnya dengan muka yang berang banget. Sementara dua pengikutnya cuma bisa menatap Zein dengan wajah tolol.
“Sesuai janji, sekarang bilang ke semua orang di sekolahan kalo lo udah bukan raja preman lagi, dan gue adalah ratu preman yang baru!” titahku padanya. Namun, ia malah tetap diam di sana sambil menggigit bibirnya.
Aku mendecak kesal. “Lo berdua!” kutunjuk si pengikut Zein yang langsung tersentak dan bersiap-siap kabur. “Kalo dalam waktu lima belas menit, gue gak denger berita Athena adalah si ratu preman baru yang ngalahin Zein, gue bakal nguber kalian hidup-hidup!”
Si dua orang tolol itu bergidik ngeri, tapi ia menatap Zein dengan tatapan memelas sebelum akhirnya berlari ke arah luar lapangan dan langsung memberitakan hal itu pada murid-murid yang lagi ngerumpi disana.
“Lo harus jadi pengikut gue, matuhi semua ucapan gue, itu aturannya.” kataku pada Zein yang masih meratapi kekalahannya.
Aku pun pergi dari sana dengan langkah tegas yang membahana di lorong sekolah.
---
Dua pengikut Zein itu rupanya cekatan. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sudah separuh sekolah lebih, tahu bahwa Athena adalah ratu baru yang mengalahkan Zein, bahkan beberapa orang sudah mendaftar untuk jadi pengikutku.
Semuanya tidak berakhir sampai disana.
Ketika sedang bolos jam terahir, beberapa preman sekolahan yang sempat jadi pengikut Zein menantangku untuk duel dan memperebutkan gelar ratu. Mereka pikir, mengalahkanku lebih mudah daripada mengalahkan Zein? Zein saja sudah kalah menghadapiku.
Itu kesenangan keduaku ketika berhasil mengalahkan mereka dengan tendangan pinalti tepat di perutnya.
Siapa sangka ada kesenangan lain yang menanti? Ah, betapa beruntungnya aku hari ini. Seorang ratu preman papan atas dari sekolah Jaya, yang berjulukan Medusa menantangku sepulang sekolah dengan taruhan gelarnya.
Tentu saja aku tak menolaknya, dia menantangku sama seperti dia menawarkan gelarnya untukku. Dia bilang boleh pakai pengikutku yang mana pun. Jadi, kuminta Zein dan Rose membantuku. Dua orang preman sekolah yang kurasa cukup hebat untuk melawan Medusa bersama dua orang pengikutnya.
Awal-awal yang cukup baik. Aku mampu menghindari serangan darinya dan meninju perutnya. Tapi, kurasa hal itu sama sekali tak berpengaruh, karena, bagi seorang Medusa, ini hanyalah pemanasan.
Babak utama baru dimulai, dan aku merasakan hal yang aneh.
Medusa mendekatiku, melancarkan serangan dari kaki kirinya dan kutahan, namun, seorang pengikutnya mendorong tubuhku dan Medusa langsung menghadiahkan jambakan keras di rambutku yang tidak langsung ia lepas.
“Seorang Medusa main keroyokan? Cih, bener-bener rendah.” ejekku padanya yang sedang menyeringai lebar.
Medusa memperkuat tarikannya pada rambutku. “Athena, lo harus banyak belajar, ini team work, bukan keroyokan.”
Kuberikan kode pada Zein yang sedang bertarung di belakang Medusa untuk menyerangnya. Mumpung ia sedang lengah menahanku.
Yep, baguslah. Zein mengerti kodeku dan dia mulai berlari ke arah punggung Medusa.
Dengan gerakan kilat ia menggunakan tongkatnya untuk memukuli Medusa yang masih tidak menyadari kehadirannya.
Ta-tapi, kenapa dia malah mengarahkannya ke arahku?
Tanpa bisa kucegah lagi, tongkat itu sukses mengenai kepalaku dengan kekuatan super kuat sehingga kepalaku berdarah.
Medusa melepaskan jambakkannya yang keras itu dan berdiri di hadapanku yang hanya bisa tersungkur di depannya.
“Ini yang namanya team work, Athena.” ujar Medusa sambil berdiri di tengah-tengah Zein dan Rose yang langsung menendang keras kepalaku.
Aku cuma bisa terdiam dengan mata menyala-nyala yang merasa dikhianati oleh dua pengikut sialan ini.
“Seperti yang gue bilang, lo harus banyak belajar, dan menjadi lebih cerdik. Lo terlalu hijau untuk ukuran ratu preman.” ucap Medusa.
Ya, dan sekarang aku menyesal banget tidak menjadi lebih cerdik serta meminta Zein dan Rose membantuku, mereka sama sekali tak bisa dipercaya.
Dengan kekuatan yang tidak tahu berasal dari mana, aku berdiri, bersiap memberi tendangan pada Medusa yang telah berbalik pergi.
Namun, dia menyadari kehadiranku dan menendangku hingga jatuh tersungkur di tengah aspal. Medusa hanya tersenyum menyeringai melihatku yang tak bisa berbuat apa-apa.
Beginikah ratu preman tingkat atas? Berdarah dingin dalam membunuh orang?
Kalau begini caranya, aku takkan mau jadi preman lagi.
Itulah pemikiran terakhirku sebelum sebuah truk besar melintasi tubuhku yang berada di tengah aspal.

Cerpen ini diikutkan lomba kuis #nulisyuk Primadonna Angela via twitter.
@cinnamoncherry #nulisyuk