Satsuki sensei bukan
guru sembarangan. Lebih tepatnya bukan guru. Dia hanyalah seorang penyelidik
yang menyamar menjadi guru untuk menyelesaikan misinya dalam mencari pembunuh
presiden perusahaan terbesar di Indonesia yang dibunuh sekitar sebulan lalu. Satsuki
pun bukan nama aslinya, itu hanya nama yang ia gunakan selama mengajar di
sekolah ini.
Pertanyaannya adalah
kenapa aku bisa mengetahuinya.
Dari dulu, aku senang
memperhatikan gerak-gerik seseorang, mencari informasi tentangnya. Tentu saja cukup
mudah bagiku melihat gerak-gerik Satsuki sensei yang matanya selalu waspada
terhadap orang-orang disekelilingnya.
Ia harus berakting
lebih baik lagi kalau tidak ingin identitasnya diketahui.
Semuanya memperkuat
prediksiku saat aku berhasil mendapatkan informasi dari website khusus dengan
perlindungan kuat yang berisi informasi pribadi tentang para penyelidik yang
bekerja untuk Indonesia, beberapa malah berasal dari luar negeri.
Namun, seorang gadis
penyelidik membuatku sedikit terkejut, rupanya Satsuki sensei, dengan nama asli
Sena, memang orang yang ditugaskan untuk menyelesaikan misi ini demi memperkuat
kepercayaan agen-agen pejabat. Salah satu orang yang dicurigai telah membunuh
presiden perusahaan ini adalah salah seorang guru di SMA Permai.
Aku tahu dengan jelas
siapa yang ia curigai.
Mr. Edward.
Tapi, tentu saja, aku
yakin seratus persen bukan Mr. Edward yang membunuhnya.
Karena Mr. Edward
hanyalah sebuah pion yang dimainkan.
---
“Satsuki sensei,
selamat pagi!” sapa Jessa sambil menyalami tangan Satsuki sensei yang tidak
halus layaknya seorang gadis usia 25 tahun lainnya.
Satsuki sensei hanya
menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.
“Satsuki sensei,
begini, ada pelajaran bahasa Jepang yang saya kurang paham. Bisakah sensei
membantu saya sepulang sekolah?” Jessa menunduk dengan raut wajah memelas.
Satsuki sensei
mengerutkan keningnya, membuatnya tampak lebih tua daripada kelihatannya.
“Maaf, saya ada tugas lain hari ini, Jessa.”
Jessa tampak kecewa,
namun, ia berusaha semaksimal mungkin tidak memperlihatkannya dengan memberikan
senyum lebar untuk guru itu. “Tidak apa-apa, sensei. Arigatou.”
Satsuki sensei pun
pergi ke arah yang berlawanan dari Jessa, meninggalkan gadis itu yang terus
menatap punggung guru perempuan itu.
---
Satsuki sensei memasuki
reruntuhan itu dengan jas serta celana panjang hitam mengkilap. Sebuah pistol
Revolver terpasang di pinggangnya. Rupanya ia berjaga-jaga jika ada kemungkinan
buruk yang terjadi.
Aku melihatnya dengan
jelas dari tempat persembunyianku. Guru itu rupanya bertindak nekat dengan
mendatangi markas Mr. Edward sendirian. Aku pun tersenyum menyeringai saat
melihatnya terbelalak ketika mengetahui Mr. Edward menodongkan pistol ke
arahnya.
“Rupanya benar kalau
kau pembunuh bayarannya.” ujar Satsuki sensei pelan pada Mr. Edward yang sudah
siap menarik pelatuknya.
Mr. Edward menyeringai.
“Aku memang pembunuh bayaran.”
“Kau juga yang membunuh
presiden salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.” todong Satsuki sensei.
Tanpa berkata apa-apa,
Mr. Edward langsung berlari ke arah Satsuki sensei dan menembakkan beberapa
peluru ke arah gadis itu. Salah satunya berhasil ia hindari sementara dua
diantaranya melukai mata kaki kiri dan bahu kanannya.
Hm, penyelidik kelas
tiga, batinku sambil terus memperhatikan pertarungan mereka.
Satsuki sensei langsung
mengambil pistolnya dan menembak beberapa kali ke arah Mr. Edward yang dengan
lihai menghindari peluru-peluru itu.
“Satsuki sensei,
kuberitahu kau satu hal. Bukan aku yang membunuh presiden perusahaan itu. Aku
memang turut ambil bagian, tapi, bukan aku yang mengakhiri nyawanya.” Mr.
Edward mengakui hal itu dengan tenang.
Satsuki sensei
terkejut. “Kau bohong. Banyak petunjuk yang meskipun kecil menyatakan bahwa
kaulah yang membunuh presiden perusahaan itu. Lagipula, jika bukan kau yang
membunuhnya, siapa lagi yang bisa?”
“Aku.”
Satsuki sensei menengok
ke belakang dan menatapku dengan mata terbelalak. Dengan suara yang parau ia
berkata pelan. “Tak kusangka, gadis alim yang selama ini berada dekat denganku
adalah pembunuh presiden perusahaan terbesar di Indonesia. Aku benar-benar
tidak menyadarinya, Jessa.”
Aku tersenyum
menyeringai, memutar-mutarkan pistolku dengan lihai. “Aku sudah tahu kau dari
tim penyelidik, Satsuki sensei, ah--maksudku, Sena.”
Satsuki sensei
menatapku dengan tatapan horor. “Kenapa kau?”
“Edward yang
membesarkanku. Sedari kecil aku sudah hidup dengan banyak senjata api, tentu
saja, itu menyebabkan aku tertarik dengan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran.” jawabku,
dan dengan gerakan kilat langsung berlari ke arah Satsuki sensei sembari
menodongkan pistol ke kepalanya. “Oya, sebaiknya sensei gak meremehkan saya,
ya.”
Satsuki sensei terdiam.
Dengan gesit ia menembak beberapa kali ke arah perutku. Untungnya, karena sudah
terbiasa dengan suara pelatuk yang hendak ditembakkan, aku berhasil
menghindarinya.
Aku memincingkan mata,
menekan pelatuk pada pistolku. Suara tembakan dari pistol yang teredam memenuhi
ruangan itu.
“Edward, ayo pergi.” ujarku
sambil pergi meninggalkan Satsuki sensei yang tengah tersungkur dengan wajahnya
yang tenggelam dalam lautan darah merah miliknya sendiri.
Cerpen ini diikutkan lomba kuis #nulisyuk Primadonna Angela via twitter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar