Selasa, 07 Mei 2013

Satsuki Sensei as Sena.


Satsuki sensei bukan guru sembarangan. Lebih tepatnya bukan guru. Dia hanyalah seorang penyelidik yang menyamar menjadi guru untuk menyelesaikan misinya dalam mencari pembunuh presiden perusahaan terbesar di Indonesia yang dibunuh sekitar sebulan lalu. Satsuki pun bukan nama aslinya, itu hanya nama yang ia gunakan selama mengajar di sekolah ini.
Pertanyaannya adalah kenapa aku bisa mengetahuinya.
Dari dulu, aku senang memperhatikan gerak-gerik seseorang, mencari informasi tentangnya. Tentu saja cukup mudah bagiku melihat gerak-gerik Satsuki sensei yang matanya selalu waspada terhadap orang-orang disekelilingnya.
Ia harus berakting lebih baik lagi kalau tidak ingin identitasnya diketahui.
Semuanya memperkuat prediksiku saat aku berhasil mendapatkan informasi dari website khusus dengan perlindungan kuat yang berisi informasi pribadi tentang para penyelidik yang bekerja untuk Indonesia, beberapa malah berasal dari luar negeri.
Namun, seorang gadis penyelidik membuatku sedikit terkejut, rupanya Satsuki sensei, dengan nama asli Sena, memang orang yang ditugaskan untuk menyelesaikan misi ini demi memperkuat kepercayaan agen-agen pejabat. Salah satu orang yang dicurigai telah membunuh presiden perusahaan ini adalah salah seorang guru di SMA Permai.
Aku tahu dengan jelas siapa yang ia curigai.
Mr. Edward.
Tapi, tentu saja, aku yakin seratus persen bukan Mr. Edward yang membunuhnya.
Karena Mr. Edward hanyalah sebuah pion yang dimainkan.
---
“Satsuki sensei, selamat pagi!” sapa Jessa sambil menyalami tangan Satsuki sensei yang tidak halus layaknya seorang gadis usia 25 tahun lainnya.
Satsuki sensei hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.
“Satsuki sensei, begini, ada pelajaran bahasa Jepang yang saya kurang paham. Bisakah sensei membantu saya sepulang sekolah?” Jessa menunduk dengan raut wajah memelas.
Satsuki sensei mengerutkan keningnya, membuatnya tampak lebih tua daripada kelihatannya. “Maaf, saya ada tugas lain hari ini, Jessa.”
Jessa tampak kecewa, namun, ia berusaha semaksimal mungkin tidak memperlihatkannya dengan memberikan senyum lebar untuk guru itu. “Tidak apa-apa, sensei. Arigatou.”
Satsuki sensei pun pergi ke arah yang berlawanan dari Jessa, meninggalkan gadis itu yang terus menatap punggung guru perempuan itu.
---
Satsuki sensei memasuki reruntuhan itu dengan jas serta celana panjang hitam mengkilap. Sebuah pistol Revolver terpasang di pinggangnya. Rupanya ia berjaga-jaga jika ada kemungkinan buruk yang terjadi.
Aku melihatnya dengan jelas dari tempat persembunyianku. Guru itu rupanya bertindak nekat dengan mendatangi markas Mr. Edward sendirian. Aku pun tersenyum menyeringai saat melihatnya terbelalak ketika mengetahui Mr. Edward menodongkan pistol ke arahnya.
“Rupanya benar kalau kau pembunuh bayarannya.” ujar Satsuki sensei pelan pada Mr. Edward yang sudah siap menarik pelatuknya.
Mr. Edward menyeringai. “Aku memang pembunuh bayaran.”
“Kau juga yang membunuh presiden salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.” todong Satsuki sensei.
Tanpa berkata apa-apa, Mr. Edward langsung berlari ke arah Satsuki sensei dan menembakkan beberapa peluru ke arah gadis itu. Salah satunya berhasil ia hindari sementara dua diantaranya melukai mata kaki kiri dan bahu kanannya.
Hm, penyelidik kelas tiga, batinku sambil terus memperhatikan pertarungan mereka.
Satsuki sensei langsung mengambil pistolnya dan menembak beberapa kali ke arah Mr. Edward yang dengan lihai menghindari peluru-peluru itu.
“Satsuki sensei, kuberitahu kau satu hal. Bukan aku yang membunuh presiden perusahaan itu. Aku memang turut ambil bagian, tapi, bukan aku yang mengakhiri nyawanya.” Mr. Edward mengakui hal itu dengan tenang.
Satsuki sensei terkejut. “Kau bohong. Banyak petunjuk yang meskipun kecil menyatakan bahwa kaulah yang membunuh presiden perusahaan itu. Lagipula, jika bukan kau yang membunuhnya, siapa lagi yang bisa?”
“Aku.”
Satsuki sensei menengok ke belakang dan menatapku dengan mata terbelalak. Dengan suara yang parau ia berkata pelan. “Tak kusangka, gadis alim yang selama ini berada dekat denganku adalah pembunuh presiden perusahaan terbesar di Indonesia. Aku benar-benar tidak menyadarinya, Jessa.”
Aku tersenyum menyeringai, memutar-mutarkan pistolku dengan lihai. “Aku sudah tahu kau dari tim penyelidik, Satsuki sensei, ah--maksudku, Sena.”
Satsuki sensei menatapku dengan tatapan horor. “Kenapa kau?”
“Edward yang membesarkanku. Sedari kecil aku sudah hidup dengan banyak senjata api, tentu saja, itu menyebabkan aku tertarik dengan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran.” jawabku, dan dengan gerakan kilat langsung berlari ke arah Satsuki sensei sembari menodongkan pistol ke kepalanya. “Oya, sebaiknya sensei gak meremehkan saya, ya.”
Satsuki sensei terdiam. Dengan gesit ia menembak beberapa kali ke arah perutku. Untungnya, karena sudah terbiasa dengan suara pelatuk yang hendak ditembakkan, aku berhasil menghindarinya.
Aku memincingkan mata, menekan pelatuk pada pistolku. Suara tembakan dari pistol yang teredam memenuhi ruangan itu.
“Edward, ayo pergi.” ujarku sambil pergi meninggalkan Satsuki sensei yang tengah tersungkur dengan wajahnya yang tenggelam dalam lautan darah merah miliknya sendiri.

Cerpen ini diikutkan lomba kuis #nulisyuk Primadonna Angela via twitter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar