Minggu, 05 Mei 2013

The Queen Of Thugs


Gelar ratu preman terhebat se-SMA Aksi sudah kusabet hari ini.
Dengan mengalahkan Zein, si raja preman sekolahan yang sudah dua tahun jadi musuh bebuyutanku itu, gelar ratu preman sudah pasti jadi milikku. Pasti.
“Sialan lo, Athena!” bentaknya padaku sambil menghapus darah di pinggir bibirnya.
Aku menaikkan dagu. Berusaha agar terlihat congkak. Dengan senyum kemenangan yang kubuat semenyebalkan mungkin, aku berkata padanya. “Masa-masa kejayaan lo udah berakhir, Zein.”
Tanpa bisa berbuat apa-apa, Zein hanya bisa meninju lantai di bawahnya dengan muka yang berang banget. Sementara dua pengikutnya cuma bisa menatap Zein dengan wajah tolol.
“Sesuai janji, sekarang bilang ke semua orang di sekolahan kalo lo udah bukan raja preman lagi, dan gue adalah ratu preman yang baru!” titahku padanya. Namun, ia malah tetap diam di sana sambil menggigit bibirnya.
Aku mendecak kesal. “Lo berdua!” kutunjuk si pengikut Zein yang langsung tersentak dan bersiap-siap kabur. “Kalo dalam waktu lima belas menit, gue gak denger berita Athena adalah si ratu preman baru yang ngalahin Zein, gue bakal nguber kalian hidup-hidup!”
Si dua orang tolol itu bergidik ngeri, tapi ia menatap Zein dengan tatapan memelas sebelum akhirnya berlari ke arah luar lapangan dan langsung memberitakan hal itu pada murid-murid yang lagi ngerumpi disana.
“Lo harus jadi pengikut gue, matuhi semua ucapan gue, itu aturannya.” kataku pada Zein yang masih meratapi kekalahannya.
Aku pun pergi dari sana dengan langkah tegas yang membahana di lorong sekolah.
---
Dua pengikut Zein itu rupanya cekatan. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sudah separuh sekolah lebih, tahu bahwa Athena adalah ratu baru yang mengalahkan Zein, bahkan beberapa orang sudah mendaftar untuk jadi pengikutku.
Semuanya tidak berakhir sampai disana.
Ketika sedang bolos jam terahir, beberapa preman sekolahan yang sempat jadi pengikut Zein menantangku untuk duel dan memperebutkan gelar ratu. Mereka pikir, mengalahkanku lebih mudah daripada mengalahkan Zein? Zein saja sudah kalah menghadapiku.
Itu kesenangan keduaku ketika berhasil mengalahkan mereka dengan tendangan pinalti tepat di perutnya.
Siapa sangka ada kesenangan lain yang menanti? Ah, betapa beruntungnya aku hari ini. Seorang ratu preman papan atas dari sekolah Jaya, yang berjulukan Medusa menantangku sepulang sekolah dengan taruhan gelarnya.
Tentu saja aku tak menolaknya, dia menantangku sama seperti dia menawarkan gelarnya untukku. Dia bilang boleh pakai pengikutku yang mana pun. Jadi, kuminta Zein dan Rose membantuku. Dua orang preman sekolah yang kurasa cukup hebat untuk melawan Medusa bersama dua orang pengikutnya.
Awal-awal yang cukup baik. Aku mampu menghindari serangan darinya dan meninju perutnya. Tapi, kurasa hal itu sama sekali tak berpengaruh, karena, bagi seorang Medusa, ini hanyalah pemanasan.
Babak utama baru dimulai, dan aku merasakan hal yang aneh.
Medusa mendekatiku, melancarkan serangan dari kaki kirinya dan kutahan, namun, seorang pengikutnya mendorong tubuhku dan Medusa langsung menghadiahkan jambakan keras di rambutku yang tidak langsung ia lepas.
“Seorang Medusa main keroyokan? Cih, bener-bener rendah.” ejekku padanya yang sedang menyeringai lebar.
Medusa memperkuat tarikannya pada rambutku. “Athena, lo harus banyak belajar, ini team work, bukan keroyokan.”
Kuberikan kode pada Zein yang sedang bertarung di belakang Medusa untuk menyerangnya. Mumpung ia sedang lengah menahanku.
Yep, baguslah. Zein mengerti kodeku dan dia mulai berlari ke arah punggung Medusa.
Dengan gerakan kilat ia menggunakan tongkatnya untuk memukuli Medusa yang masih tidak menyadari kehadirannya.
Ta-tapi, kenapa dia malah mengarahkannya ke arahku?
Tanpa bisa kucegah lagi, tongkat itu sukses mengenai kepalaku dengan kekuatan super kuat sehingga kepalaku berdarah.
Medusa melepaskan jambakkannya yang keras itu dan berdiri di hadapanku yang hanya bisa tersungkur di depannya.
“Ini yang namanya team work, Athena.” ujar Medusa sambil berdiri di tengah-tengah Zein dan Rose yang langsung menendang keras kepalaku.
Aku cuma bisa terdiam dengan mata menyala-nyala yang merasa dikhianati oleh dua pengikut sialan ini.
“Seperti yang gue bilang, lo harus banyak belajar, dan menjadi lebih cerdik. Lo terlalu hijau untuk ukuran ratu preman.” ucap Medusa.
Ya, dan sekarang aku menyesal banget tidak menjadi lebih cerdik serta meminta Zein dan Rose membantuku, mereka sama sekali tak bisa dipercaya.
Dengan kekuatan yang tidak tahu berasal dari mana, aku berdiri, bersiap memberi tendangan pada Medusa yang telah berbalik pergi.
Namun, dia menyadari kehadiranku dan menendangku hingga jatuh tersungkur di tengah aspal. Medusa hanya tersenyum menyeringai melihatku yang tak bisa berbuat apa-apa.
Beginikah ratu preman tingkat atas? Berdarah dingin dalam membunuh orang?
Kalau begini caranya, aku takkan mau jadi preman lagi.
Itulah pemikiran terakhirku sebelum sebuah truk besar melintasi tubuhku yang berada di tengah aspal.

Cerpen ini diikutkan lomba kuis #nulisyuk Primadonna Angela via twitter.
@cinnamoncherry #nulisyuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar