Gelar ratu preman
terhebat se-SMA Aksi sudah kusabet hari ini.
Dengan mengalahkan
Zein, si raja preman sekolahan yang sudah dua tahun jadi musuh bebuyutanku itu,
gelar ratu preman sudah pasti jadi milikku. Pasti.
“Sialan lo, Athena!”
bentaknya padaku sambil menghapus darah di pinggir bibirnya.
Aku menaikkan dagu.
Berusaha agar terlihat congkak. Dengan senyum kemenangan yang kubuat
semenyebalkan mungkin, aku berkata padanya. “Masa-masa kejayaan lo udah
berakhir, Zein.”
Tanpa bisa berbuat
apa-apa, Zein hanya bisa meninju lantai di bawahnya dengan muka yang berang
banget. Sementara dua pengikutnya cuma bisa menatap Zein dengan wajah tolol.
“Sesuai janji, sekarang
bilang ke semua orang di sekolahan kalo lo udah bukan raja preman lagi, dan gue
adalah ratu preman yang baru!” titahku padanya. Namun, ia malah tetap diam di
sana sambil menggigit bibirnya.
Aku mendecak kesal. “Lo
berdua!” kutunjuk si pengikut Zein yang langsung tersentak dan bersiap-siap
kabur. “Kalo dalam waktu lima belas menit, gue gak denger berita Athena adalah
si ratu preman baru yang ngalahin Zein, gue bakal nguber kalian hidup-hidup!”
Si dua orang tolol itu
bergidik ngeri, tapi ia menatap Zein dengan tatapan memelas sebelum akhirnya
berlari ke arah luar lapangan dan langsung memberitakan hal itu pada
murid-murid yang lagi ngerumpi disana.
“Lo harus jadi pengikut
gue, matuhi semua ucapan gue, itu aturannya.” kataku pada Zein yang masih
meratapi kekalahannya.
Aku pun pergi dari sana
dengan langkah tegas yang membahana di lorong sekolah.
---
Dua pengikut Zein itu
rupanya cekatan. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sudah separuh sekolah
lebih, tahu bahwa Athena adalah ratu baru yang mengalahkan Zein, bahkan
beberapa orang sudah mendaftar untuk jadi pengikutku.
Semuanya tidak berakhir
sampai disana.
Ketika sedang bolos jam
terahir, beberapa preman sekolahan yang sempat jadi pengikut Zein menantangku
untuk duel dan memperebutkan gelar ratu. Mereka pikir, mengalahkanku lebih
mudah daripada mengalahkan Zein? Zein saja sudah kalah menghadapiku.
Itu kesenangan keduaku
ketika berhasil mengalahkan mereka dengan tendangan pinalti tepat di perutnya.
Siapa sangka ada
kesenangan lain yang menanti? Ah, betapa beruntungnya aku hari ini. Seorang
ratu preman papan atas dari sekolah Jaya, yang berjulukan Medusa menantangku
sepulang sekolah dengan taruhan gelarnya.
Tentu saja aku tak
menolaknya, dia menantangku sama seperti dia menawarkan gelarnya untukku. Dia
bilang boleh pakai pengikutku yang mana pun. Jadi, kuminta Zein dan Rose
membantuku. Dua orang preman sekolah yang kurasa cukup hebat untuk melawan Medusa
bersama dua orang pengikutnya.
Awal-awal yang cukup
baik. Aku mampu menghindari serangan darinya dan meninju perutnya. Tapi, kurasa
hal itu sama sekali tak berpengaruh, karena, bagi seorang Medusa, ini hanyalah
pemanasan.
Babak utama baru
dimulai, dan aku merasakan hal yang aneh.
Medusa mendekatiku,
melancarkan serangan dari kaki kirinya dan kutahan, namun, seorang pengikutnya
mendorong tubuhku dan Medusa langsung menghadiahkan jambakan keras di rambutku yang
tidak langsung ia lepas.
“Seorang Medusa main
keroyokan? Cih, bener-bener rendah.” ejekku padanya yang sedang menyeringai
lebar.
Medusa memperkuat
tarikannya pada rambutku. “Athena, lo harus banyak belajar, ini team work,
bukan keroyokan.”
Kuberikan kode pada
Zein yang sedang bertarung di belakang Medusa untuk menyerangnya. Mumpung ia
sedang lengah menahanku.
Yep, baguslah. Zein
mengerti kodeku dan dia mulai berlari ke arah punggung Medusa.
Dengan gerakan kilat ia
menggunakan tongkatnya untuk memukuli Medusa yang masih tidak menyadari
kehadirannya.
Ta-tapi, kenapa dia
malah mengarahkannya ke arahku?
Tanpa bisa kucegah
lagi, tongkat itu sukses mengenai kepalaku dengan kekuatan super kuat sehingga
kepalaku berdarah.
Medusa melepaskan
jambakkannya yang keras itu dan berdiri di hadapanku yang hanya bisa tersungkur
di depannya.
“Ini yang namanya team work,
Athena.” ujar Medusa sambil berdiri di tengah-tengah Zein dan Rose yang
langsung menendang keras kepalaku.
Aku cuma bisa terdiam
dengan mata menyala-nyala yang merasa dikhianati oleh dua pengikut sialan ini.
“Seperti yang gue
bilang, lo harus banyak belajar, dan menjadi lebih cerdik. Lo terlalu hijau
untuk ukuran ratu preman.” ucap Medusa.
Ya, dan sekarang aku
menyesal banget tidak menjadi lebih cerdik serta meminta Zein dan Rose
membantuku, mereka sama sekali tak bisa dipercaya.
Dengan kekuatan yang
tidak tahu berasal dari mana, aku berdiri, bersiap memberi tendangan pada Medusa
yang telah berbalik pergi.
Namun, dia menyadari
kehadiranku dan menendangku hingga jatuh tersungkur di tengah aspal. Medusa
hanya tersenyum menyeringai melihatku yang tak bisa berbuat apa-apa.
Beginikah ratu preman
tingkat atas? Berdarah dingin dalam membunuh orang?
Kalau begini caranya,
aku takkan mau jadi preman lagi.
Itulah pemikiran terakhirku
sebelum sebuah truk besar melintasi tubuhku yang berada di tengah aspal.
Cerpen ini diikutkan
lomba kuis #nulisyuk Primadonna Angela via twitter.
@cinnamoncherry
#nulisyuk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar