Senin, 14 Oktober 2013

Giant Cinderella


Belakangan ini nama Ella sedang populer di sekolah.

Ella bukan nama murid baru di kelas 10 yang memukau, langsing, cantik bak model, atau malah siswi baru yang punya bakat dan kecerdasan diatas rata-rata. Gadis ini hanyalah gadis biasa yang dilihat dari penampilan fisik maupun bakatnya, jelas dibawah standar, dengan badan lebih dari sekedar gemuk, dan berat lebih dari setengah ton, gadis ini sukses meraih julukan ‘Cinderella berbadan besar’ yang terkenal di setiap angkatan.
 
Yep, Ella adalah perwujudan gadis yang tak diidamkan oleh gadis manapun di sekolahan. Jelas saja, dengan badan kelewat gendut, dan kecerdasan kurang dari standar, serta tanpa kemampuan yang menonjol dalam bidang apapun, tentu saja tak ada yang berharap menjadi Ella, termasuk aku.

Sayangnya, akulah Ella.

Jika aku boleh memilih, aku juga tak ingin menjadi Ella, tapi, akulah dia, dan aku tak bisa memilih ingin menjadi siapa tentunya.

Dan, yang membuat nyaris semua murid menjulukiku demikian dikarenakan oleh Rey, si cowok super ganteng kelas 12 yang selalu dianggap romeo dan digilai setiap gadis di sekolah. Tapi, percayalah, cowok ini benar-benar cowok paling kurang ajar dari seluruh cowok yang ada, mesum kelas berat, pembuat onar tingkat atas, serta narsis tingkat dewa, dan, entah kenapa masih ada saja gadis yang menyukainya.

Oke, selain segala keburukan yang ada pada Rey, Rey juga telah menyebabkan hidup SMA-ku yang mulanya damai jadi penuh kontroversi, membuatku yang kasatmata ini terlihat oleh seluruh murid di sekolah.

Semua dimulai ketika secara tidak sengaja aku terjatuh dari tangga dan meninggalkan sepatuku yang sebelah kanan bak Cinderella di tangga sekolahan yang kebetulan dilewati oleh Rey dan kawan-kawannya.

Rey yang tengah melewat tangga tersebut beserta konco-konconya jelas ngakak berat saat melihatku terjatuh dari tangga. Tanpa ada niat untuk membantuku ataupun menolongku.

“Huakakak! Ada yang mau jadi Cinderella versi gendut rupanya!” ejek salah satu kawan Rey.

Aku langsung bangkit berdiri, berniat pergi jauh-jauh dari tempat terkutuk ini, dan entah keseleo atau bagaimana, kaki-ku tak bisa digerakkan secara bebas.

Rey rupanya menyadari hal itu, dengan langkah super santai dan tenaga bak kuda, ia mengambil sepatuku yang sebelahnya, lalu menggendongku ke ruang UKS. Bisa kudengar teriakan anak-anak lainnya beserta konco-konco Rey yang langsung terbelalak dan ketawa ngakak melihat kejadian itu, tapi, otakku masih dalam proses untuk mencerna apa yang dilakukan Rey.

“Elo..,” aku mengeluarkan suara setelah Rey berhasil menaruhku di salah satu kursi di UKS. “… punya tenaga dari mana?”

Rey menengok ke arahku, dengan senyuman licik dan jahil. “Buset dah, elo berat banget.”

Sial. “Kalo gitu buat apa lo ngangkat gue? Gue ini gak kenapa-kenapa dan masih bisa jalan, tau?”

“Menurut lo kenapa?” Rey mengerling padaku. “Gue kasihan aja sama lo, kaki lo kayaknya bermasalah, makanya gue bantuin elo. Lagian, kalo cewek-cewek ngeliat sikap mulia gue, eksistensi gue bakalan naik di sekolah ini.”

Dengan kata-kata sederhana itu, dia meninggalkanku dari UKS.

Lalu, gosip ‘Cinderella berbadan besar, si murid baru seberat lebih dari setengah ton menggoda Rey’ mulai menghantui hari-hariku.

---

Oke, aku keki abis dengan Rey. Bisa-bisanya dia memperlakukanku begitu demi mendapatkan popularitas di sekolah denganaku sebagai korbannya. Benar-benar menyebalkan, bukannya akan jauh lebih baik jika dia mengambil korban lainnya? Maksudku, lihatlah, aku ini cewek terburuk sepanjang abad. Di sekolah ini, cewek yang jauh lebih cantik dan mau-mau saja dengan sukarela memenuhi semua keinginan Rey jelas lebih banyak, lalu, untuk apa dia menggunakanku? Secara tidak langsung dia membuatku mendapatkan julukan dan gosip itu.

Jawaban yang ada dipikiranku sederhana, dia ingin tambah eksis dengan cara yang tidak biasa.

Itulah sebabnya hari ini aku berada di gudang terpencil di belakang sekolah bersama Rey, si romeo sialan ini. Niatku untuk membenahi gosip itu sudah tak tertahankan lagi, jadi, pilihan terbaik adalah meminta Rey memadamkan gosip itu, serta pergi jauh-jauh dari hidupku.

“Kenapa lo ngajak gue kesini, El?” tanya Rey sembari tersenyum manis ke arahku. “Lo mau mojok berdua sama gue?”

“Gue minta elo hapus gosip itu dari sekolah ini.” ujarku langsung pada Rey.

Mata Rey menampakkan kekagetan, meski hanya sebentar, sebelum kemudian berubah menjadi Rey si Romeo kurang ajar yang biasanya.“Kenapa?”

“Gue lebih suka hidup tenang tanpa dipeduliin siapapun.” jawabku dengan nada yang lebih tenang dibanding sebelumnya.

Suasana hening sejenak.

“El, lo cewek yang aneh tau, gak?” tiba-tiba Rey mulai berbicara.“Cewek gendut yang nampaknya lugu, tapi bicara dengan kakak kelas pake kata gue-elo, juga gak terpengaruh ketika cowok paling diidamkan di sekolah menggodanya.”

Aku terdiam, sebelum akhirnya Rey beranjak meninggalkanku di lorong dengan gaya khasnya, membuatku langsung bertanya-tanya. 

“Lo mau ngapain?”

Ia menengok, mengerling, dan dengan gaya tengilnya yang biasa berkata. “Ngehapus gosip itu.” Lalu melanjutkan. “In the different way.”

Uh-oh, aku punya firasat buruk tentang ini.

Lima belas menit kemudian, gosip ‘Cinderella berbadan besar pacaran dengan Rey, si primadonna sekolah’ menggantikan gosipku yang sebelumnya.

Oh, damn, kurasa cowok ini sama sekali tidak paham dengan konteks ‘hidup tenang’

1 komentar: