Belakangan ini nama Ella sedang
populer di sekolah.
Ella bukan nama murid baru di kelas
10 yang memukau, langsing, cantik bak model, atau malah siswi baru yang punya
bakat dan kecerdasan diatas rata-rata. Gadis ini hanyalah gadis biasa yang
dilihat dari penampilan fisik maupun bakatnya, jelas dibawah standar, dengan
badan lebih dari sekedar gemuk, dan berat lebih dari setengah ton, gadis ini
sukses meraih julukan ‘Cinderella berbadan besar’ yang terkenal di setiap
angkatan.
Yep, Ella adalah perwujudan gadis
yang tak diidamkan oleh gadis manapun di sekolahan. Jelas saja, dengan badan
kelewat gendut, dan kecerdasan kurang dari standar, serta tanpa kemampuan yang
menonjol dalam bidang apapun, tentu saja tak ada yang berharap menjadi Ella,
termasuk aku.
Sayangnya, akulah Ella.
Jika aku boleh memilih, aku juga tak
ingin menjadi Ella, tapi, akulah dia, dan aku tak bisa memilih ingin menjadi
siapa tentunya.
Dan, yang membuat nyaris semua murid
menjulukiku demikian dikarenakan oleh Rey, si cowok super ganteng kelas 12 yang
selalu dianggap romeo dan digilai setiap gadis di sekolah. Tapi, percayalah,
cowok ini benar-benar cowok paling kurang ajar dari seluruh cowok yang ada,
mesum kelas berat, pembuat onar tingkat atas, serta narsis tingkat dewa, dan,
entah kenapa masih ada saja gadis yang menyukainya.
Oke, selain segala keburukan yang
ada pada Rey, Rey juga telah menyebabkan hidup SMA-ku yang mulanya damai jadi
penuh kontroversi, membuatku yang kasatmata ini terlihat oleh seluruh murid di
sekolah.
Semua dimulai ketika secara tidak
sengaja aku terjatuh dari tangga dan meninggalkan sepatuku yang sebelah kanan bak
Cinderella di tangga sekolahan yang kebetulan dilewati oleh Rey dan
kawan-kawannya.
Rey yang tengah melewat tangga
tersebut beserta konco-konconya jelas ngakak berat saat melihatku terjatuh dari
tangga. Tanpa ada niat untuk membantuku ataupun menolongku.
“Huakakak! Ada yang mau jadi
Cinderella versi gendut rupanya!” ejek salah satu kawan Rey.
Aku langsung bangkit berdiri,
berniat pergi jauh-jauh dari tempat terkutuk ini, dan entah keseleo atau
bagaimana, kaki-ku tak bisa digerakkan secara bebas.
Rey rupanya menyadari hal itu,
dengan langkah super santai dan tenaga bak kuda, ia mengambil sepatuku yang
sebelahnya, lalu menggendongku ke ruang UKS. Bisa kudengar teriakan anak-anak
lainnya beserta konco-konco Rey yang langsung terbelalak dan ketawa ngakak
melihat kejadian itu, tapi, otakku masih dalam proses untuk mencerna apa yang
dilakukan Rey.
“Elo..,” aku mengeluarkan suara
setelah Rey berhasil menaruhku di salah satu kursi di UKS. “… punya tenaga dari
mana?”
Rey menengok ke arahku, dengan
senyuman licik dan jahil. “Buset dah, elo berat banget.”
Sial. “Kalo gitu buat apa lo
ngangkat gue? Gue ini gak kenapa-kenapa dan masih bisa jalan, tau?”
“Menurut lo kenapa?” Rey mengerling
padaku. “Gue kasihan aja sama lo, kaki lo kayaknya bermasalah, makanya gue
bantuin elo. Lagian, kalo cewek-cewek ngeliat sikap mulia gue, eksistensi gue
bakalan naik di sekolah ini.”
Dengan kata-kata sederhana itu, dia
meninggalkanku dari UKS.
Lalu, gosip ‘Cinderella berbadan
besar, si murid baru seberat lebih dari setengah ton menggoda Rey’ mulai
menghantui hari-hariku.
---
Oke, aku keki abis dengan Rey.
Bisa-bisanya dia memperlakukanku begitu demi mendapatkan popularitas di sekolah
denganaku sebagai korbannya. Benar-benar menyebalkan, bukannya akan jauh lebih
baik jika dia mengambil korban lainnya? Maksudku, lihatlah, aku ini cewek
terburuk sepanjang abad. Di sekolah ini, cewek yang jauh lebih cantik dan
mau-mau saja dengan sukarela memenuhi semua keinginan Rey jelas lebih banyak,
lalu, untuk apa dia menggunakanku? Secara tidak langsung dia membuatku
mendapatkan julukan dan gosip itu.
Jawaban yang ada dipikiranku
sederhana, dia ingin tambah eksis dengan cara yang tidak biasa.
Itulah sebabnya hari ini aku berada
di gudang terpencil di belakang sekolah bersama Rey, si romeo sialan ini.
Niatku untuk membenahi gosip itu sudah tak tertahankan lagi, jadi, pilihan
terbaik adalah meminta Rey memadamkan gosip itu, serta pergi jauh-jauh dari
hidupku.
“Kenapa lo ngajak gue kesini, El?”
tanya Rey sembari tersenyum manis ke arahku. “Lo mau mojok berdua sama gue?”
“Gue minta elo hapus gosip itu dari
sekolah ini.” ujarku langsung pada Rey.
Mata Rey menampakkan kekagetan,
meski hanya sebentar, sebelum kemudian berubah menjadi Rey si Romeo kurang ajar
yang biasanya.“Kenapa?”
“Gue lebih suka hidup tenang tanpa
dipeduliin siapapun.” jawabku dengan nada yang lebih tenang dibanding
sebelumnya.
Suasana hening sejenak.
“El, lo cewek yang aneh tau, gak?”
tiba-tiba Rey mulai berbicara.“Cewek gendut yang nampaknya lugu, tapi bicara
dengan kakak kelas pake kata gue-elo, juga gak terpengaruh ketika cowok paling
diidamkan di sekolah menggodanya.”
Aku terdiam, sebelum akhirnya Rey
beranjak meninggalkanku di lorong dengan gaya khasnya, membuatku langsung
bertanya-tanya.
“Lo mau ngapain?”
Ia menengok, mengerling, dan dengan
gaya tengilnya yang biasa berkata. “Ngehapus gosip itu.” Lalu melanjutkan. “In the different way.”
Uh-oh, aku punya firasat buruk
tentang ini.
Lima belas menit
kemudian, gosip ‘Cinderella berbadan besar pacaran dengan Rey, si primadonna
sekolah’ menggantikan gosipku yang sebelumnya.
Oh, damn, kurasa cowok ini sama sekali tidak paham dengan konteks
‘hidup tenang’
Koq ending'x ngegantung sich?
BalasHapus