Rabu, 18 Juni 2014

Resensi Novel : Omen #5


Omen #5 : Kutukan Hantu Opera – Lexie Xu
Oleh : Fransiska Nikki

Penulis : Lexie Xu
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 376 Halaman
Harga : Rp. 75.000
ISBN : 978 – 602 – 03 – 0558 – 5

---

Rasanya belakangan ini judul buku Omen Series sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita semua. Ya, beberapa bulan belakangan, Lexie Xu terus-terus menghujani toko buku dengan novel Omen Series karyanya, diantaranya adalah Omen, Tujuh Lukisan Horor, Misteri Organisasi Rahasia The Judges, Malam Karnaval Berdarah, dan yang paling fresh serta terbaru, Kutukan Hantu Opera.

Nah, untuk sekarang, saya memilih membahas Kutukan Hantu Opera a.k.a Omen 5. Omen 5 jelas memiliki konflik intrik per karakter yang jauh lebih banyak di alur ceritanya dibandingkan dengan novel-novel sebelumnya dikarenakan tokohnya yang kelewat banyak. Yah, Lexie Xu memang sempat menjelaskan bahwa Omen 5 akan jadi novel yang menguak seluruh misteri di novel-novel Omen Series sebelumnya. Disini-lah, nyaris seluruh misteri dan tragedi di novel sebelumnya terkuak—saya bilang nyaris, bukan berarti seluruh jawaban dari pertanyaan para pembaca terjawab, ya—dan awal baru untuk novel Omen Series yang selanjutnya.

Omen 5 diawali dengan pertengkaran kecil Putri Badai dengan Damian Erlangga—salah satu karakter figuran dari Omen 4 yang pangkatnya naik setelah Omen 5 terbit—cowok itu rupanya terang-terangan memberi tantangan perang dari Kelompok Radikal Anti-Judges kepada Putri Badai yang notabene merupakan Hakim Tertinggi The Judges. Namun, di balik semua fakta itu, Damian, bukannya malah bertindak sebagai musuh, ia malah menggoda Putrid an selalu ready untuk menolong cewek itu dari masa lalunya serta tidak menutupi perasaan sukanya pada Putri Badai.

Namun, namanya juga Putri Badai, tentu saja tidak mungkin ia mencurahkan seluruh perhatiannya pada sikap Damian Erlangga yang kadang bertingkah seperti teman, dan kadang malah bertingkah seperti musuh. Putri Badai, bersama dengan Rima Hujan serta kawannya yang matre, Aria Topan—ditambah dengan Erika Guruh dan Valeria Guntur yang tidak resmi ikutan—harus memusatkan segala perhatannya pada acara teater Phantom Of The Opera yang diadakan oleh klub drama, dan didalangi oleh Nikki, si cewek dengan senyum mengerikan yang dicurigai sana sini dikarenakan keterlibatannya dalam acara karnaval sebelumnya, yang lebih parahnya, kali ini ia membawa sekutu baru yang memegang kartu AS dalam kehidupan Erika, yaitu Eliza Guruh.

Curiga dengan alasan Nikki mengadakan teater tersebut, kali ini Putri bersama dengan pengikut-pengikutnya mengadakan penyelidikan terhadap orang-orang mencurigakan yang dianggap berhubungan dengan Nikki serta Eliza, dengan cara mereka masing-masing tentunya. Namun, dalam novel kali ini, setiap karakter rupanya memiliki masalah tersendiri disamping adanya teater tersebut, seperti Putri Badai yang masih dibayang-bayangi masalah Dicky, mantan pacarnya dan Damian Erlangga yang terus-terusan pedekate dengannya tanpa peduli kanan kiri, atau Aria Topan yang bingung dengan percintaannya sendiri, Rima Hujan yang harus mati-matian mempertahankan diri dari Nikki yang hipokrit dan mengincar pacar tercintanya, Daniel, serta Erika Guruh yang hidupnya makin lama makin bokek sementara Eliza Guruh terus mendekatinya, dan yang paling memegang peranan dalam misteri novel ini, Valeria Guntur yang bermasalah dengan ayahnya, masa lalunya, serta ingatannya akan ibunya sendiri yang mungkin hanyalah kebohongan semata.

Teater Phantom Of The Opera terbukti menjadi adegan dimana segala permasalahan mulai terjadi, dimulai dari penganiayaan terhadap para siswa yang dulunya sempat menjadi otak permasalahan sekolahan yang terjadi, adegan hot Damian Erlangga dengan Putri Badai yang ditonton di atas panggung oleh seluruh siswa, belum lagi permasalahan batin Valeria Guntur yang seluruh penyamarannya terbongkar di depan umum. Semua hal itu jelas menjadi racikan yang mengejutkan di Omen 5. Sementara para dalang dari seluruh penganiyaan ini sebenarnya adalah seseorang yang dekat dengan Valeria, bos dari Nikki dan Damian. Musuh besar keluarga Guntur. Orang yang sama sekali tidak Valeria duga.

“Nggak setiap orang menyukai penjilat. Kalau ayahku menyukai penjilat, beliau nggak akan menyukai Aya, Rima, apalagi Putri Badai.”—Valeria Guntur, halaman 349.

“Nggak akan ada yang menyangka gue menjalankan rencana yang sama dua kali. Tambahan lagi, kali ini gue nggak menggunakan pameran pengganti.”—Eliza Guruh, halaman 367.

Wow! Standing applause dan empat jempol saya acungkan buat Lexie Xu. Novel Omen 5 yang satu ini dieksekusi dengan luar biasa menarik. Kalau ditanya mana yang paling saya sukai dari Omen Series, sudah jelas Kutukan Hantu Opera yang saya pilih. Disini, meski setiap karakter utama memiliki masalah sendiri, namun misteri dari cerita ini tetap menjadi sorotan utama yang benar-benar membuat setiap orang penasaran. Apalagi setiap bab selalu di narasi oleh karakter yang berbeda-beda, membuat saya menyadari karateristik setiap karakter-karakternya, contohnya Putri Badai yang jutek abis dan tak bisa dibantah, Rima Hujan yang nampaknya pendiam namun ternyata agak jahil dan bertanggung jawab, Aya Topan yang matre dan sebenarnya lumayan pedulian, Valeria Guntur yang setelah penyamarannya ketahuan langsung berubah menjadi orang yang super keras, egois dan tak mau dibantah, lalu yang terakhir Erika Guruh—yah, diantara semua nama yang saya sebutkan, saya memang lebih suka dengan Erika Guruh—yang super blak-blakan, banyol, ngakak, boros namun pada akhirnya selalu luluh dihadapan Viktor Yamada, si ojek—baca : pacar—kesayangan.

Diantara semua karakter ini, karakter yang paling saya sukai rupanya agak-agak mengejutkan, yaitu Nikki—kelihatannya semua orang langsung hening saat tahu saya suka tokoh antagonis ini, ya?— kenapa? Hmm, sebenarnya ini hanya selera pribadi, sih, saya selalu menyukai karakter antagonis daripada tokoh utamanya, karena, mereka-lah yang membuat plot di cerita ini menjadi sangat menarik. Dan karakter Nikki di Omen Series sebagai tokoh antagonis benar-benar membuat saya penasaran—sekali lagi Lexie Xu berhasil membuat karakter antagonis yang kece banget— Nikki yang hipokrit, manipulatif, pandai memutarbalikkan fakta jelas membuat saya tertarik, terutama senyuman Nikki yang kelewat lebar sehingga membuat wajahnya terbagi dua—nah, saya paling penasaran dengan hint yang satu ini—dan semoga saja, Nikki bisa jadi model cover di novel Omen selanjutnya^^ (ngelirik penuh harap ke Kalex, kak Regina Feby si illustrator novel, serta kak Vera si editor Omen Series).

Dan ini berarti, dengan Omen 5 yang diacungi jempol oleh banyak pembaca, tugas terbaru Lexie Xu adalah meningkatkan Omen 6 dan Omen 7 ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Keep writing, Lexie Xu!^^

2 komentar:

  1. Waduh, serem dong nanti covernya kalau Nikki yang jadi model cover Omen6. ( ≧Д≦)

    Katanya sih di cover Omen6 nanti akan ditampilkan penampilan Val yang gak cupu lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Covernya serem enggak masalah, yang penting ceritanya makin seru! \m/ *semangat45

      Oya? Wah, jadi penasaran ngelihat penampilannya Val deh^^

      Hapus